BAHAYA
KONSUMSI JAMU PADA IBU HAMIL
Indonesia
merupakan Negara yang memiliki banyak kebudayaan yang turun menurun tetap
terjaga dan dipercayai oleh masyarakatnya, seperti halnya kebudayaan khusus
pada ibu hamil. Di seluruh Indonesia kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh
ibu hamil sangat beragam, tergantung dari budaya masyarakat setempatnya.
Perilaku ibu hamil di suku Jawa misalnya, mereka meyakini bahwa seorang ibu
hamil tidak boleh melakukan kerokan, membawa gunting karena untuk mencegah
gangguan makhluk halus, dan dianjurkan minum jamu (Pratiwi Arum, 2010).
Angka
kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia sangat tinggi yaitu 359 per
100 ribu untuk AKI dan 25 per 1000 untuk AKB, tingginya AKI dan AKB ini
disebabkan karena faktor kepercayaan-kepercayaan pada ibu hamil yang belum
tentu kebenarannya (DepKes dalam Faktor Sosial Budaya dalam Praktik Perawatan
Kehamilan, Persalinan, dan Pasca
Persalinan (Studi di Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara, 2012).
Kepercayaan yang dianut oleh ibu hamil di
Indonesia banyak yang kurang sesuai dengan fakta-fakta yang sudah dibuktikan
melalui penelitian. Salah satu contohnya yaitu pantangan makan ikan di Deli
Serdang pada tahun 2014 ditemukan sebanyak 38,88 persen dari responden
berpantang makan ikan karena ditakutkan darah nifas yang keluar akan amis. Hal
tersebut sangat salah, Almatsier (2009) dalam Sosial, Budaya serta Pengetahuan
Ibu Hamil yang Tidak Mendukung Kehamilan Sehat menyatakan bahwa pembatasan
makan ikan saat kehamilan terjadi yang merupakan sumber protein akan
mengakibatkan terjadi masalah pada pembentukan dan perkembangan janin.
Kandungan protein dalam ikan sangat tinggi yaitu sekitar 16 persen dan ikan
diketahui memiliki struktur asam amino yang paling sesuai dengan kebutuhan
manusia apalagi pada janin yang sedang berkembang, hal ini sangat disayangkan
apabila ibu hamil menghindari konsumsi ikan.
Hal
lain yang menjadi kepercayaan masyarakat dan merugikan adalah larangan untuk
minum terlalu banyak karena dikhawatirkan luka setelah melahirkan akan lama
kering, padahal kita semua tahu bahwa air merupakan substansi paling besar
penyusun tubuh kita dan membantu metabolisme tubuh kita, akan sangat
disayangkan bagi ibu hamil yang menghindari minum terlalu banyak. Leininger
juga mengatakan bahwa perilaku menghindari air minum dapat membahayakan
kesehatan ibu karena pada masa penyembuhan banyak membutuhkan air bukan malah
membuat luka menjadi basah (Pratiwi Arum, 2010).
Selain
faktor-faktor di atas, jamu merupakan kebiasaan pada ibu hamil yang tidak bisa
dihindari, obat tradisional yang sudah sejak lama sekali dipercaya bisa
menyembuhkan berbagai penyakit, meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta
dipercaya sehat, aman dan tidak membahayakan tubuh, biasanya ibu hamil
mengkonsumsi ini adalah untuk menambah ketahanan tubuh terhadap serangan
penyakit, mengatasi mual, muntah dan untuk mengatasi pegal-pegal (Paryono,
2014).
Jamu
memang dianggap tidak beracun dan tidak memiliki efek samping serta kasiatnya
telah teruji sepanjang waktu, zaman dan sejarah, serta bukti empiris secara
langsung pada manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi jamu
saat kehamilan memiliki risiko tujuh kali untuk melahirkan bayi dengan
asfiksia. Penelitian ini dilakukan oleh Dewi Purnawati dan Iwan Ariawan di
Bekasi. Dari penelitian yang dilakukan ibu hamil dengan konsumsi jamu berisiko
tinggi untuk melahirkan bayi asfiksia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena dimungkinkan
material jamu yang sangat kental akan mengendap pada cairan ketuban sehingga
akan menjadi keruh dan menyebabkan hipokisa lalu terjadi gangguan pernapasan. Oleh
karena itu, sangat perlu dihindari mengkonsumsi jamu pada saat hamil. Selain
itu contoh jamu yang dapat membuat kehamilan menjadi terganggu adalah jamu cabe
jawa bisa menghambat kontraksi otot saat persalinan dan jamu kunyit asam bisa
merangsang kontraksi secara terus-menerus dan abortivum. Dari penelitian yang
sudah dilakukan alangkah baiknya konsumsi jamu dihindari saja agar tidak
terjadi hal yang buruk pada bayi saat dilahirkan nanti. Pemerintah juga
memiliki tanggung jawab yang lebih untuk memberikan informasi kesehatan pada
masyarakat terutama di desa yang memiliki budaya yang kuat. Hal ini agar tidak
ada lagi informasi-informasi yang salah agar AKI dan AKB di Indonesia bisa
turun.
SUMBER
:
Paryono
& Kurniarum, Ari. (2014). Kebiasaan konsumsi jamu untuk menjaga kesehatan
tubuh pada saat hamil dan setelah melahirkan di desa kajoran klaten selatan.
Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, 3(1), 64-72.
Pasaribu,
D.R., Setia, F.T., & Gultom. (2014). Sosial, budaya serta pengetahuan ibu
hamil yang tidak mendukung kehamilan sehat. Jurnal Ilmiah PANMED, 9(1), 72-78.
Pratiwi,
Arum & Arifah, Siti. Perilaku kehamilan, persalinan dan nifas terkait
dengan budaya kesehatan pada masyarakat Jawa di wilayah kabupaten Sukoharjo.
Jurnal Keperawatan Indonesia, 1(3).
Purnawati,
Dewi & Ariawan, Iwan. (2012). Konsumsi jamu ibu hamil sebagai faktor risiko
asfiksia bayi baru lahir. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 6(6), 267-272.
Suryawati,
Chriswardani. (2007). Faktor sosial budaya dalam praktik keperawatan kehamilan,
persalinan dan pasca persalinan (studi di kecamatan Bangsri kabupaten Jepara).
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 2(1), 21-31.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar